SERANG,Satriabuananews.My.id.— Kisah pilu dialami Isah, perempuan berusia 55 tahun yang tinggal di Kampung Panenjoan, Desa Cikesal, Kecamatan Cikesal, Kabupaten Serang. Selama sekitar dua tahun terakhir, Isah harus menjalani hari-harinya dengan kondisi stroke yang membatasi aktivitasnya.
Isah merupakan seorang ibu yang memiliki tiga orang anak. Namun, dalam kondisi sakit yang dialaminya, hanya satu anak yang masih merawat dan mendampinginya. Sementara dua anak lainnya disebut sudah tidak diketahui kabarnya.
Kondisi tersebut membuat Isah harus mengandalkan bantuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu anggota keluarga yang turut menopang kehidupannya adalah adik perempuannya, Askari, yang bekerja serabutan dengan penghasilan tidak tetap.
Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi keluarga tersebut. Dengan pekerjaan yang tidak menentu, Askari berusaha memenuhi kebutuhan Isah semampunya, termasuk kebutuhan sehari-hari selama menjalani kondisi sakit.
Di tengah keterbatasan itu, Isah tetap bertahan menjalani kehidupan bersama keluarga yang masih berada di sisinya. Perjuangannya menggambarkan kondisi warga yang menghadapi persoalan kesehatan sekaligus keterbatasan ekonomi dan dukungan keluarga.
Kisah Isah menjadi potret kehidupan masyarakat yang membutuhkan perhatian dan kepedulian, terutama dalam hal kesehatan, kebutuhan dasar, serta dukungan sosial bagi warga yang mengalami keterbatasan akibat penyakit.
Di sebuah rumah sederhana di Kampung Panenjoan, Kabupaten Serang…
seorang ibu berusia 55 tahun bernama Isah harus menjalani hari-harinya dalam keterbatasan.
Sudah dua tahun… Isah menderita stroke.
Tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Untuk melakukan banyak hal, ia membutuhkan bantuan orang lain.
Isah memiliki tiga orang anak…
Namun, menurut informasi yang diperoleh, hanya satu anak yang masih mengurus dan mendampinginya.
Sementara dua anak lainnya disebut sudah tidak lagi memedulikan kondisi sang ibu.
Dalam kesunyian itu…
Isah hanya bisa mengandalkan adiknya, Askari, yang bekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu.
Menurut informasi yang diperoleh, bantuan pemerintah yang diperuntukkan bagi Isah juga disebut diambil oleh anak pertamanya.
Informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.
Namun di balik semua keterbatasan itu…
Isah masih bertahan.
Mungkin yang ia inginkan bukanlah sesuatu yang besar.
Hanya perhatian…
kasih sayang…
dan seseorang yang berkata…
“Ibu, kamu tidak sendirian.”
Redaksi


Tinggalkan Balasan